Memilih Teman Islam juga mengatur segala lini kehidupan, lahir maupun batin, baik secara vertikal hubungan antara makhluk dan Khalik-nya ataupun secara horizontal yaitu hubungan antara sesama. Sebagian orang sangat memerhatikan hubungan dengan sesama, namun menyepelekan hubungannya dengan Sang Khalik, seolah-olah dia hidup terlahir begitu saja, lantas mati tanpa akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah ia lakukan ketika di dunia. la lupa akan maksud hidup yang sesungguhnya. Yang lain, ada yang sangat mengutamakan hubungan dengan Rabb-nya, namun kadang ia menyepelekan hubungan dengan sesama, dan menganggapnya sebagai momok yang menghantuinya. Padahal, Islam adalah agama yang adil dan pertengahan, sehingga seorang muslim yang sempurna adalah mereka yang mampu menunaikan kewajiban terhadap Sang Khalik sekaligus kepada sesama. Apabila seseorang mengurangi kewajiban kepada keduanya, maka semakin kurang pula imannya. Untuk itu, akan dibahas tentang dengan siapa kita harus bergaul, dan bagaimana tinjauan syariat, mengetahui keutamaan bergaul dengan orang-orang baik dan akibat bergaul dengan orang-orang buruk, baik di dunia ataupun di akhirat. I. ANJURAN BERGAUL DENGAN PELAKU KEBAIKAN Rasul tercinta bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan ternan yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli dari-nya, atau kamu mendapatkan wanginya. Dan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat bau yang tidak sedap.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim) Kebutuhan manusia terhadap lingkungan yang baik, laksana kebutuhan tanaman terhadap tanah yang subur. Kala tanah itu bagus, cukup kandungan unsur haranya, suhunya cocok, dan airnya cukup, maka tanaman tersebut akan bersemi, tumbuh berkembang, dan berbuah sesuai yang diharapkan. Sebaliknya, tanaman tersebut tidak akan berkembang dengan baik, dan tidak akan menghasilkan buah yang sesuai dengan yang didambakan, bahkan tanaman itu bisa mati karenanya. Selayaknya kita mencari lingkungan yang baik, teman yang shalih yang bisa mendukung kita untuk selalu istiqamah dalam kebaikan dan ketaatan kepada-Nya. Allah berfirman, “Dan sabarkanlah dirimu beserta orang-orang yang menyeru Tuhannya di waktu pagi dan sore hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganiah kamu palingkan wajahmu dari mereka hanya karena kamu menghendaki perhiasan dunia, dan janganlah kamu ikuti orang-orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, dan menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadannya sangat melewati batas.” (Al-Kahfi: 28) Allah menyuruh orang-orang beriman untuk senantiasa bergabung dengan orang-orang yang baik demi menjaga keimanan mereka, seperti dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwaiah kalian kepada Allah dan hendaklah kalian bersama para shadikin.” (‘At-Taubah : 119) Dalam ayat ini, Allah tidak mencukupkan dengan menyuruh orang-orang beriman untuk bertakwa saja, namun la pun memerintahkan mereka untuk senantiasa menyertai orang-orang yang jujur sebagai sarana melestarikan keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah. Rasul bersabda, “Seseorang itu tergantung kepada kebiasaan teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang dijadikan teman karibnya.” (Riwayat At-Tirmidzi, dan dishahih-kan Al-Albani dalam Ash-Shahihah 927
